Senin, 04 Oktober 2010

Empat Kunci Sukses

Lebaran kemarin saya bersama kawan-kawan KKN mampir ke MTs N Godean. Disana, kami disambut baik oleh siswa-siswi, bapak dan ibu guru, karyawan, serta Kepada Madrasah. Kami bersalaman sambil berikrar minta maaf atas segala kesalahan. Setelah itu, kami masuk ke ruang Kepada dan disana Pak Bahsan dengan senyum cerianya menyambut kami berlima. Beliau menyuruh kami duduk dan segera menyapa kami semua. Lalu, dengan sedikit canggung saya memulai pembicaraan bahwa niat kami ke Madrasah adalah untuk bersilaturahim dan meminta maaf kepada seluruh pihak Madrasah jika selama kami KKN disana banyak kesalahan. Pak Bahsan dengan nada penuh senyum membalas niat silaturahim kami dan memaafkan kesalahan kami.

Pembicaraan pun kami lanjutkan. Mula-mula beliau menanyakan perihal perasaan kami ketika mengajar. "Jadi guru itu enak ya?" Celetuk beliau kepada kami. Kami pun hanya tersenyum dan sesekali mengutarakan perasaan dengan nada ringan. Rupanya, pembicaraan kami kian hangat. Kami menyadari bahwa beliau ini termasuk orang yang terbuka dan memiliki karakter pendidik yang kuat. Beliau ini ternyata orang pesantren, kalau saya ndak salah beliau pernah nyantri di Nurul Ummah, Yogyakarta. "Siapa yang pernah nyantri?", beliau bertanya kepada kami. Berhubung kami semua pernah menjadi santri meski sebentar, kami jawab saja apa adanya. Pembicaraan kami pun mengarah ke pesantren. Beliau bercerita kalau dahulu mempunyai teman bernama Rasyid. "Rasyid itu di pondok jadi pesuruh. Disuruh masak, benerin genteng, benerin lampu, pokoke opo wae. Kalau ada pekerjaan kurang beres, si Rasyid ini jadi kambing hitamnya, hehehe".

Beliau semakin asyik bercerita. "Setelah sekian tahun, saya kaget. Saya ditelpon sama temen, dia bilang begini sama saya, Kang, Sampean tahu Rasyid? Sekarang dia memiliki pesantren dengan jumlah santri sekitar 800 orang. Saya benar-benar kaget dan tak menyangka hal itu". Pak Bahsan masih saja larut dengan ceritanya. " Itulah uniknya pesantren. Sama seperti kisah Mbah Hamid Pasuruan. Beliau itu nyantri selama 12 tahun dan disana beliau hanya menjadi tukang ngangsu air. Setelah 12 tahun beliau mengatakan pada Kyai-nya kalau selama ini beliau tidak pernah disuruh ngaji. Beliau bingung nanti pulang ke rumah mau apa wong ndak bisa ngaji. Lalu Kyai-nya bilang, wis ndak sah khawatir. Kyai-nya ini kemudian menyuruh Mbah Hamid ngaji sorogan. Uniknya, kalau santri-santri yang lain menghabiskan waktu yang lama untuk memahami kitab, Mbah Hamid hanya membutuhkan waktu satu setengah tahun. Setelah itu, Mbah Hamid malah disuruh pulang sama Pak Kyai. Dan kita lihat sekarang, pesantren beliau besar dan maju".

Di tengah-tengah suasana khidmad karena asyik mendengarkan ceritanya, tiba-tiba beliau nyeletuk."Tapi tidak semua begitu. Kalian kalau ndak belajar sungguh-sunnguh yang ndak bisa seperti itu". Kami pun hanya bisa tertawa. Bagi kami, itu sebuah kisah inspiratif meski saya sendiri sudah mendengar kisah-kisah seperti itu seperti kisahnya Mbah Hasyim. Kami sebagai generasi muda menjadi kian terbuka bahwa banyak fenomena kehidupan yang itu jauh di luar daya nalar. Disanalah kekuasaan Tuhan yang menjelma. Tuhan yang digambarkan sebagai sesuatu yang suprarasional atau melampui rasionalitas, sungguh memiliki kekuasaan yang tak terbatas. Wajar saja kalau al-Qur'an mengabarkan bahwa seandainya laut dijadikan tinta dan ikan sebagai penanya, itu tak akan cukup untuk menulis ilmu Allah.

Pembicaraan dengan Pak Bahsan pun kami lanjutkan. Kali ini beliau memberikan kami 4 kunci kesuksesan. Menurut beliau, kunci kesuksesan yang pertama adalah, jangan pernah diri ini lepas dari masjid. Hal ini telah beliau lakukan semenjak masih kuliah di IAIN. Sampai saat ini beliau masih menjadi pengurus takmir masjid. Saya pribadi lantas berpikir, mengapa mesti masjid? Baru setelah saya membuka al-Qur'an, di dalam surah at-Taubah : 18, disana tertera demikian, "Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk".

Hanya orang-orang yang beriman yang mau memakmurkan masjid. Kalau begitu, semoga saja Pak Bahsan ini termasuk golongan yang masuk dalam ayat ini. Lalu, apa hubungannya dengan kesuksesan? Untuk mengetahui jawabannya saya pun membuka al-Qur'an lagi. Di dalam surah Ali Imran : 57, Allah menjelaskan, "Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim". Pahala disini bisa saja diberikan di dunia yaitu berupa harta, pujian, dan lainnya (Q.S.3:148). Wajar saja kalau orang-orang yang memakmurkan masjid diberikan kesuksesan oleh Allah.

Lalu, kunci yang kedua menurut Pak Bahsan adalah shalat dhuha. "Saya sudah 25 tahun melaksanakan shalat dhuha. Dan alhamdulillah selalu bisa saya laksanakan", tutur beliau. Memang ini sudah menjadi rahasia umum meski saya sendiri masih saja malas untuk melaksanakannya. "Yang ketiga, memang ini agak berat, yaitu shalat tahajud", beliau melanjutkan. " Yang berat itu istiqamahnya. Kalau shalat dhuha masih bisa dijangkau. Pasti ada waktu senggang di pagi hari meski lima menit". Shalat tahajud sebagaimana kita ketahui bersama, memang bisa melancarkan rizki dan menjadi lantaran terkabulnya hajat. Sayangnya, saya sendiri masih saja berat untuk melaksanakannya.

Lalu yang terakhir adalah silaturahim, atau mencari jejaring kalau dalam dunia bisnis. "Silaturahim itu banyak manfaatnya, Mas. Saya punya mobil, rumah, itu karena sering silaturahim. Kalau ndak, ya susah. Gaji saya jadi kepala ya ndak cukup untuk beli mobil sama rumah". Tutur beliau penuh yakin. "Sampai saya bisa menjadi pengurus haji, ini juga karena rajin silaturahim".

Itulah ilmu yang saya dapat dari Pak Bahsan. Sesungguhnya, tawaran Pak Bahsan adalah solusi yang langsung beliau nukil dari ajaran Islam. Ini artinya, Islam tidaklah kolot dan tidak pula ketinggalan zaman. Boleh-boleh saja Barat memiliki paradigma tersendiri mengenai kesuksesan. Tetapi Islam juga memberi solusi untuk menapaki jalan sukses. Hanya saja, kita terkadang enggan untuk mengakuinya, apalagi menjalankannya. Saya sendiri juga demikian. Apalagi jiwa anak muda, selalu ingin mencari sesuatu yang baru dan brilian. Padahal, sesuatu yang lama belum tentu buruk. Mungkin ada perlunya kita menengok kembali prinsip usul fiqh, "Al-muhafadzatu 'ala qadimi as-shalih wa al-ahdu bil jadidi al-ashlah (menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik)". wallahu a'lam.

Yogyakarta, 5 Oktober 2010

Wahai Bapak, Siapa Namamu?

"Mas, nderek teng kamar mandi...". Suara itu datang dari arah depan. Saat itu kebetulan saya sedang mencuci baju. Ternyata suara itu milik bapak tua penjual kerupuk. Ia tersenyum saat saya membalas sapaannya. Dengan raut muka sedikit berbinar, ia mengenalkan dirinya kepada saya. Nada bicaranya berlogat Jawa campur Sunda. Kalau dibahasakan dengan standar Bahasa Indonesia, kira-kira ia bicara demikian, "Saya asli Ciamis, Mas. Saya sudah 38 tahun merantaui di Jogja mencari penghidupan. Saya tinggal di dekat kampus UPN. Kemarin lebaran mudik. Ini baru lima hari di Joga". Lalu saya baik bertanya kepadanya, "Keluarga di rumah, apa disini, Pak?". "Kalau keluarga di rumah, Mas. Saya tinggal sendiri disini. Kalau mau main kesana ndak papa".

Ia lalu meneruskan pembicaraannya sambil menatap saya penuh yakin. "Saya bersyukur bisa bekerja meski jadi penjual krupuk. Yang penting rizki saya halal. Dari pada saya korupsi, malah dosa. Meski hasilnya sedikit yang penting saya bahagia". Rupanya bapak itu hendak menasehati saya. "Saya merantau sejak jaman Bung Karno. Dulu saya pernah ke Jakarta. Sekarang di Jogja. Dimanapun saya tidak ingin cari musuh. Saya ingin mencari saudara dan bersilaturahim. Kalau saya ingin mencari musuh, mending di rumah aja. Ndak usah jauh-jauh datang ke Jogja". Bapak itu terus saja menasehati saya. Ia berbicara sambil sesekali menggerakkan tubuhnya karena mungkin kecapekan. Setelah itu, ia pun ke kamar mandi untuk cuci muka dan tangan. Ia lalu ambil air wudlu dan melaksanakan shalat dhuha. Selepas shalat, ia bergegas pergi. Saya yang saat itu masih mencuci baju, belum sempat menyapanya kembali. Saya juga lupa belum menanyakan namanya.

Perjumpaan dengan penjual kerupuk itu bagi saya sungguh berkesan. Meski hanya sebentar, goresan kata-katanya seakan membekas di benak ini. Dari raut mukanya terpancar wajah yang penuh hati-hati. Bapak itu memberi saya arti bahwa mencari rizki itu atas dasar kehalalan meski hanya sedikit. Yang sedikit saja sudah bisa membahagiakan, apalagi jika banyak. Saya sebagai generasi muda tersentak akan kesederhanaannya sehingga ia berani berkata bahwa korupsi itu dosa. Ia semakin meyakinkan saya bahwa dimanapun kita berada, pasti ada pintu rizki yang terbuka. Yang penting kita telah berusaha. Saya jadi ingat bahwa al-Qur'an telah mengabarkan, "Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)(Q.S. Huud : 6)".

Semenjak itu tabir ketakutan saya semakin terbuka. Ternyata, kita ini hanyalah setitik air di tengah lautan kekuasaan-Nya. Mengapa kita harus takut menghadapi hidup jika Tuhan masih mengawasi gerak-gerik langkah kaki. Toh, karunia-Nya tak terbatas ruang dan waktu. Asal diri kita tak punya musuh dan tak punya salah, mengapa harus takut? Orang yang takut itu adalah orang yang mempunyai kesalahan. Dimana-mana ia takut akan musuh-musuhnya. Bahkan terhadap Tuhan pun ia takut untuk mendekat. Mungkin termasuk diri saya ini. Terkadang takut untuk mendekat kepada-Nya. Bapak itu juga telah membuka dunia ini semakin luas. Ia mengajari bahwa persaudaraan dimana pun perlu dipupuk. Bagi kita, pembicaraan seperti ini adalah sesuatu yang sederhana. Tapi kita tak menyadari bahwa seringkali kita melupakan hal itu. Kita sering mencari persaingan dimana-mana. Memang persaingan itu perlu, tapi tak perlu kita jadikan pesaing sebagai musuh. Modernitas memang melahirkan banyak persaingan atas dasar kompetisi. Akhirnya, kita seringkali dibingungkan oleh kegelisahan diri sendiri. Gelisah tak mendapat pekerjaan, gelisah tak bisa makan, gelisah tak mampu kuliah, dan sebagainya.
Saya berterimakasih kepada Bapak yang telah membuka kesadaran akan luasnya semesta. Sayang...saya belum sempat menanyakan siapa namanya.

Yogyakarta, 4 Oktober 2010

Kamis, 30 September 2010

Bercermin Kepada Ibu Dewi

Tahun 2010 saya KKN di MTs N Godean, Yogyakarta. Tiga bulan lamanya. Disanalah saya mengenal sosok Ibu Dewi, seorang guru TPA yang aktif datang ke masjid. Awal perkenalan kami yaitu sewaktu saya dan kawan-kawan KKN bertadarus di Masjid at-Toyibah. Hampir setiap malam di bulan ramadhan, kami mengisi kegiatan dengan bersenandung al-Qur'an. Saat itulah Ibu Dewi bersama para Ibu yang lain melihat kami dan pelan-pelan mereka menyapa kami dengan akrabnya. Sekian lama kami saling kenal, tanpa ragu Ibu Dewi menyuruh kami membantu mengajar anak-anak TPA. Kami ingat saat itu Ibu Dewi berkata, “Kami sangat berterimakasih seandainya mas-mas ini mau menularkan ilmunya kepada anak-anak kami”.
Tawaran Ibu Dewi tentu saja kami sanggupi karena bagi kami mengajar merupakan kewajiban. Hampir setiap hari dikala matahari mulai tenggelam, kami datang ke masjid dan belajar bersama anak-anak. Ternyata mereka menyenangkan meski ada beberapa anak yang hyperaktif. Anak-anak juga merespon baik keberadaan kami. Mereka mengajak kami bermain, bercanda, bahkan kadang-kadang ada yang minta gendong, pangku, minta didongengin, ah...sungguh menyenangkan. Itulah anak-anak yang kelak diharapkan tenaga, pikiran, dan hartanya untuk kemajuan agama, bangsa dan negara ini. Merekalah generasi penerus yang menjadi idaman para generasi tua.
Hampir satu bulan kami mengajar anak-anak, tibalah waktunya kami harus berpamitan karena jadwal penarikan KKN sudah jatuh tempo. Sebelum pamitan, kami bertemu Ibu Dewi di masjid. Beliau mengatakan akan bersilaturahim ke kos-kosan kami bersama anak-anak sekaligus berpamitan. Benarlah saja, mereka datang pagi hari kira-kira pukul sepuluh. Dengan diiringi derai air mata, Ibu Demi memberikan sambutan sebagai kata terimakasihnya kepada kami. Ia juga memberi kami kenang-kenangan yang kata anak-anak dananya dari iuran dan dari Ibu Dewi sendiri. Kebetulan yang menerima ucapan terimakasih itu hanya saya seorang karena kawan-kawan sedang sibuk. Saya pun turut terharu dan dalam benak pikiran saya segera muncul perasaan khusnudzan, bahwa Ibu Dewi ini adalah Ibu yang shalihah. Semoga saja penilaian saya itu tidak salah.
Lantas pelan-pelan saya mencoba membaca beliau, dan bagi saya, Ibu Dewi ini adalah sosok yang energik dan berani tampil beda dengan yang lain. Ditengah gempuran modernitas yang begitu dahsyat, Ibu Dewi tetap bertahan dengan prinsip “kemasjidannya”. Generasi muda masa kini tentu akan berpikir bahwa sosok Ibu Dewi ini tidak dibutuhkan. Generasi muda lebih menyukai hura-hura ketimbang hidup zuhud di masjid. Itulah salah satu sisi kejamnya modernitas ketika dipaksakan kepada generasi yang lemah prinsip. Modernitas yang menjadi harapan pencerahan, justru malah menjermuskan manusia ke alam maya. Modernitas hanya membanggakan aspek fisik yang gemerlap, sementara sisi rohaninya kosong. Akal dipaksakan bekerja tanpa nurani sehingga penindasan atas nama modernitas terjadi dimana-mana.
Ibu Dewi sesungguhnya adalah counter atas lemahnya modernitas. Ia bisa dibaca sebagai sebuah buku yang kaya akan makna. Pertama, kita melihat bahwa Ibu Dewi memiliki semangat keikhlasan yang tinggi. Ikhlas untuk saat ini telah diremehkan. Padahal, bangunan prinsip yang kokoh akan terbentuk manakala ikhlas menjadi basisnya. Indonesia sebagai sebuah bangsa, lebih sering menonjolkan kepentingan dari pada keikhlasan. Alasannya sederhana, “orang yang ikhlas akan ditindas, jadi buat apa ikhlas”. Mengapa saat ini terjadi demikian, karena kita sejak dulu tidak membangun keikhlasan sehingga menegakkan keikhlasan bagai menegakkan benang basah. Ingat pesan Ali ra, bahwa kejahatan yang terorganisir bisa mengalahkan kebaikan yang tak terorganisir. Saat ini keikhlasan tidak lagi terorganisir karena jumlahnya sedikit. Wajar saja jika menegakkan keikhlasan banyak mengalami kekalahan.
Islam mengajarkan bahwa prinsip pertama dalam beramal adalah tergantung niat. Hadis yang diriwayatkan oleh imam Abu 'Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah al-Bukhari dan Abu al-Husain Muslim bin Hajjah bin Muslim al-Qusyairi an-Naisaburi jelas-jelas menyebutkan, “sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya...”. Niat adalah parameter dari apa yang akan dihasilkan dari perbuatan. Niat yang ikhlas tanpa pamrih tentu akan menghasilkan generasi-generasi yang kuat prinsipnya, yang tidak mudah digoyahkan oleh iming-iming duniawi. Kalau selama ini niat kita membangun bangsa adalah untuk mengeruk kekayaannya, jangan disalahkan kalau generasi penerus kita nanti juga akan berbuat sama.
Kedua, dari sosok Ibu Dewi kita tersadar bahwa sesungguhnya Tuhan telah sekian lama merogoh kesadaran kita. Dalam surah Ali Imran ayat 104 Allah mengalunkan firman indahnya, “Hendaklah ada diantara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung”. Allah menyuruh segolongan ummat sebagai corong untuk menyampaikan perintah-Nya. Segolongan tentu saja bukan keseluruhan dan biasanya minoritas. Yang namanya minoritas pasti akan terintimidasi oleh mayoritas, baik secara langsung maupun tidak. Ini artinya, berani menjadi Ibu Dewi berarti berani terintimidasi dari lingkungan mayoritas. Disinilah kalau bukan prinsip yang menyala, tentu kita akan digilas oleh derasnya arus dunia. Prinsip itulah yang bisa digali dari keimanan.
Kalau saya boleh jujur, semestinya orang-orang yang patut dibanggakan adalah orang-orang type Ibu Dewi ini, bukan mereka yang menggumbar janji-janji. Saya memiliki keyakinan kuat, bahwa bangsa ini bisa maju dan terbebas dari penderitaan adalah tatkala orang-orang yang duduk di Istana sana adalah orang-orang yang berprinsip seperti Ibu Dewi. Sayangnya, orang-orang seperti ini jumlahnya sedikit. Mungkin 1001. Tapi kita tak boleh berputus asa. Masih banyak harapan jika kita mau berusaha sekuat tenaga. Kita berdoa saja dan dengan penuh khusnuddzan kita berharap semoga Allah akan menurunkan orang-orang pilihannya seperti Ibu Dewi ini untuk mengawal setiap generasi bangsa....amin!

Yogyakarta, 1 Oktober 2010

Rabu, 29 September 2010

Catatan Kecilku

Angin berhembus kencang menerjang segala apa yang dilewatinya. Pepohonan bergoyang dahsyat bahkan sebagian ada yang tumbang. Toko-toko di pinggir jalan beterbangan atapnya, roboh dan rusak. Aku ingat hari itu adalah hari sabtu, 25 September 2010. Aku bersepeda motor dari Sedayu bersama Gus Hafidz, putra ketiga K.H. Zainal Arifin Thoha. Ia yang didepanku harus mengusap-ngusap matanya karena segerombol benda kecil masuk. Akhirnya kusuruh ia duduk di belakang.
Pelan-pelan angin itu merasuk ke dalam tubuhku, terus melewati aliran darah, hingga menusuk nuraniku. Angin itu berbisik dengan isak tangisnya yang sendu, “wahai manusia, telah berabad-abad kau rusak bumimu ini. Telah berkali-kali kau kotori diriku ini. Kau pasang ranjau di setiap sudut yang kulalui dengan gas-gas pembuangan beracun. Aku telah sesak, terdesak, dan aku memberontak”. Suara tangisan itu terus saja membayangiku, menjadi beban pikiran yang membentuk gelembung-gelembung kegetiran di sudut otakku.
Masyaallah! Hidup saat ini seperti bukan hidup. Bumi yang kita tempati, bukan lagi bumi yang asri. Bumi telah berganti menjadi bom waktu yang setiap detik bisa meledak dan melayangkan nyawa. Apakah kau tahu? Semua itu terjadi bukan karena siapa-siapa, tapi karena kejahatanku sendiri. Tanganku yang jail telah mengaduk-aduk isi bumi dan menghancurkannya. Manusia telah tersekat ke dalam hidup fatamorgana. Hedonisme, individualisme, egoisme, kapitalisme, dan isme-isme yang lain telah menjadi Tuhan yang disembah oleh berjuta-juta umat. Demi alasan ilmu pengetahuan, bumi dieksplorasi demikian angker. Ujung-ujungnya adalah berburu uang, kekuasaan, dan prestige.
Uang memang telah menjadi berhala menakutkan di abad ini. Uang telah disembah-sembah demikian khusyu’nya mengalahkan shalat lima waktu. Kekuatan dengan bentuk apapun, iman setebal apapun, ideologi sekuat apapun, prinsip setegak apapun, sewaktu-waktu bisa runtuh hanya karena uang. Modus operandinya pun bermacam-macam. Ada yang berdalih demi perdamaian, demi keilmuan, demi kemajuan, demi rakyat, demi masa depan, bahkan yang lebih ganas lagi, demi Tuhan. Apapun alasannya semuanya ndobos! Ujung-ujungnya hanyalah uang yang mewujud dalam kekuasaan, prestige, wanita, bahkan kekuatan.
Ya Allah, aku menjadi ingat apa yang dipesankan oleh Lukmanul Hakim kepada anaknya. Saat beliau memberi pelajaran hikmah, begitu bijak beliau berkata, “Ya bunayya, inna ad-dunya bahrun ‘amiqun (wahai anakku, sesungguhnya dunia ini adalah samudra yang ganas)”. Kata-kata itu merefleksikan setiap detik persoalan yang terjadi di abad ini. Persaingan manusia memperebutkan hidup, adalah bukti yang nyata. Manusia saling sikut, sesama saudara saling bunuh, majikan dan karyawan saling mengintrik, politisi adu taktik, bahkan pemimpin pun beramai-ramai memperebutkan kursi dengan strategi yang cantik. Manusia bangga mempertontonkan kelicikannya. Dan tanpa sadar, kita semua telah mengamininya. Kita telah menyuburkan segala kehancuran itu lewat ajaran-ajaran televisi, ceramah para bintang iklan, dan wasiat-wasiat manis para artis. Kita juga telah ditipu dengan pengetahuan yang membelenggu.
Tanpa sadar otak kita telah dicuci sehingga yang bersarang di kepala kita ini bukanlah akal pikiran yang jernih, tetapi daftar panjang nama-nama saudara yang akan kita binasakan. Kita telah menyusun gelombang konsumerisme dan iklim egoisme yang setiap waktu kita muntahkan. Tanpa sadar pula, kita sedang menyiapkan kuburan untuk masa depan anak cucu-kita. Padahal masa depan itu bukan sekedar yang nampak oleh mata. Negri akhirat yang disiapkan Tuhan untuk umatnya, juga masa depan yang nyata. Setiap hari kita mengharap keselamatan, kita berdoa “Rabba atina widdunya hasanah, wafil akhirati khasanah, waqina ‘adzabannar”, tapi kita tak pernah memperhatikan keselamatan kita sendiri. Kita telah merong-rong kesejatian diri.
Astaghfirullah! Betapa kejamnya diriku, dirimu, yang telah berbuat dzalim. Kepada diri sendiri kita dzalim, kepada orang lain kita dzalim, kepada bumi kita dzalim, bahkan kepada Tuhan pun kita dzalim. Barangkali ada benarnya wasiat Ronggowarsito, jika kita menangi jaman edan, maka yang terpenting adalah senantiasa eling dan waspada. Eling bahwa sejatinya diri kita ini hanyalah titipan. Kita dititipi perangkat hidup untuk didayagunakan hanya untuk mengabdi kepada Tuhan. Waspada bahwa arus kehidupan ini demikian deras. Jangan sampai kita terseret dan terperosok ke dalam jurang sehingga kita tak mampu keluar.
Kita memang generasi lemah yang tak mampu berbuat apa-apa. Alangkah bijak jika sejak sekarang kita memohon kepada Allah rabbul ‘alamin, agar Ia memberikan generasi yang kuat, handal, dan siap menerjang badai kehidupan. Kepada generasi muda yang akan datang, aku berharap semoga kalian terlahir sebagai panji Islam yang siap bertempur melawan kezaliman. Duniamu kelak adalah ampas yang diwariskan para pendahulu. Olahlah sampah itu menjadi sesuatu yang bermakna. Jangan hanya kau tatap dan kau ratapi saja. Jadilah manusia perkasa yang siap menerjang malapetaka, alfatihah…