Kamis, 30 September 2010

Bercermin Kepada Ibu Dewi

Tahun 2010 saya KKN di MTs N Godean, Yogyakarta. Tiga bulan lamanya. Disanalah saya mengenal sosok Ibu Dewi, seorang guru TPA yang aktif datang ke masjid. Awal perkenalan kami yaitu sewaktu saya dan kawan-kawan KKN bertadarus di Masjid at-Toyibah. Hampir setiap malam di bulan ramadhan, kami mengisi kegiatan dengan bersenandung al-Qur'an. Saat itulah Ibu Dewi bersama para Ibu yang lain melihat kami dan pelan-pelan mereka menyapa kami dengan akrabnya. Sekian lama kami saling kenal, tanpa ragu Ibu Dewi menyuruh kami membantu mengajar anak-anak TPA. Kami ingat saat itu Ibu Dewi berkata, “Kami sangat berterimakasih seandainya mas-mas ini mau menularkan ilmunya kepada anak-anak kami”.
Tawaran Ibu Dewi tentu saja kami sanggupi karena bagi kami mengajar merupakan kewajiban. Hampir setiap hari dikala matahari mulai tenggelam, kami datang ke masjid dan belajar bersama anak-anak. Ternyata mereka menyenangkan meski ada beberapa anak yang hyperaktif. Anak-anak juga merespon baik keberadaan kami. Mereka mengajak kami bermain, bercanda, bahkan kadang-kadang ada yang minta gendong, pangku, minta didongengin, ah...sungguh menyenangkan. Itulah anak-anak yang kelak diharapkan tenaga, pikiran, dan hartanya untuk kemajuan agama, bangsa dan negara ini. Merekalah generasi penerus yang menjadi idaman para generasi tua.
Hampir satu bulan kami mengajar anak-anak, tibalah waktunya kami harus berpamitan karena jadwal penarikan KKN sudah jatuh tempo. Sebelum pamitan, kami bertemu Ibu Dewi di masjid. Beliau mengatakan akan bersilaturahim ke kos-kosan kami bersama anak-anak sekaligus berpamitan. Benarlah saja, mereka datang pagi hari kira-kira pukul sepuluh. Dengan diiringi derai air mata, Ibu Demi memberikan sambutan sebagai kata terimakasihnya kepada kami. Ia juga memberi kami kenang-kenangan yang kata anak-anak dananya dari iuran dan dari Ibu Dewi sendiri. Kebetulan yang menerima ucapan terimakasih itu hanya saya seorang karena kawan-kawan sedang sibuk. Saya pun turut terharu dan dalam benak pikiran saya segera muncul perasaan khusnudzan, bahwa Ibu Dewi ini adalah Ibu yang shalihah. Semoga saja penilaian saya itu tidak salah.
Lantas pelan-pelan saya mencoba membaca beliau, dan bagi saya, Ibu Dewi ini adalah sosok yang energik dan berani tampil beda dengan yang lain. Ditengah gempuran modernitas yang begitu dahsyat, Ibu Dewi tetap bertahan dengan prinsip “kemasjidannya”. Generasi muda masa kini tentu akan berpikir bahwa sosok Ibu Dewi ini tidak dibutuhkan. Generasi muda lebih menyukai hura-hura ketimbang hidup zuhud di masjid. Itulah salah satu sisi kejamnya modernitas ketika dipaksakan kepada generasi yang lemah prinsip. Modernitas yang menjadi harapan pencerahan, justru malah menjermuskan manusia ke alam maya. Modernitas hanya membanggakan aspek fisik yang gemerlap, sementara sisi rohaninya kosong. Akal dipaksakan bekerja tanpa nurani sehingga penindasan atas nama modernitas terjadi dimana-mana.
Ibu Dewi sesungguhnya adalah counter atas lemahnya modernitas. Ia bisa dibaca sebagai sebuah buku yang kaya akan makna. Pertama, kita melihat bahwa Ibu Dewi memiliki semangat keikhlasan yang tinggi. Ikhlas untuk saat ini telah diremehkan. Padahal, bangunan prinsip yang kokoh akan terbentuk manakala ikhlas menjadi basisnya. Indonesia sebagai sebuah bangsa, lebih sering menonjolkan kepentingan dari pada keikhlasan. Alasannya sederhana, “orang yang ikhlas akan ditindas, jadi buat apa ikhlas”. Mengapa saat ini terjadi demikian, karena kita sejak dulu tidak membangun keikhlasan sehingga menegakkan keikhlasan bagai menegakkan benang basah. Ingat pesan Ali ra, bahwa kejahatan yang terorganisir bisa mengalahkan kebaikan yang tak terorganisir. Saat ini keikhlasan tidak lagi terorganisir karena jumlahnya sedikit. Wajar saja jika menegakkan keikhlasan banyak mengalami kekalahan.
Islam mengajarkan bahwa prinsip pertama dalam beramal adalah tergantung niat. Hadis yang diriwayatkan oleh imam Abu 'Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah al-Bukhari dan Abu al-Husain Muslim bin Hajjah bin Muslim al-Qusyairi an-Naisaburi jelas-jelas menyebutkan, “sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya...”. Niat adalah parameter dari apa yang akan dihasilkan dari perbuatan. Niat yang ikhlas tanpa pamrih tentu akan menghasilkan generasi-generasi yang kuat prinsipnya, yang tidak mudah digoyahkan oleh iming-iming duniawi. Kalau selama ini niat kita membangun bangsa adalah untuk mengeruk kekayaannya, jangan disalahkan kalau generasi penerus kita nanti juga akan berbuat sama.
Kedua, dari sosok Ibu Dewi kita tersadar bahwa sesungguhnya Tuhan telah sekian lama merogoh kesadaran kita. Dalam surah Ali Imran ayat 104 Allah mengalunkan firman indahnya, “Hendaklah ada diantara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung”. Allah menyuruh segolongan ummat sebagai corong untuk menyampaikan perintah-Nya. Segolongan tentu saja bukan keseluruhan dan biasanya minoritas. Yang namanya minoritas pasti akan terintimidasi oleh mayoritas, baik secara langsung maupun tidak. Ini artinya, berani menjadi Ibu Dewi berarti berani terintimidasi dari lingkungan mayoritas. Disinilah kalau bukan prinsip yang menyala, tentu kita akan digilas oleh derasnya arus dunia. Prinsip itulah yang bisa digali dari keimanan.
Kalau saya boleh jujur, semestinya orang-orang yang patut dibanggakan adalah orang-orang type Ibu Dewi ini, bukan mereka yang menggumbar janji-janji. Saya memiliki keyakinan kuat, bahwa bangsa ini bisa maju dan terbebas dari penderitaan adalah tatkala orang-orang yang duduk di Istana sana adalah orang-orang yang berprinsip seperti Ibu Dewi. Sayangnya, orang-orang seperti ini jumlahnya sedikit. Mungkin 1001. Tapi kita tak boleh berputus asa. Masih banyak harapan jika kita mau berusaha sekuat tenaga. Kita berdoa saja dan dengan penuh khusnuddzan kita berharap semoga Allah akan menurunkan orang-orang pilihannya seperti Ibu Dewi ini untuk mengawal setiap generasi bangsa....amin!

Yogyakarta, 1 Oktober 2010

Rabu, 29 September 2010

Catatan Kecilku

Angin berhembus kencang menerjang segala apa yang dilewatinya. Pepohonan bergoyang dahsyat bahkan sebagian ada yang tumbang. Toko-toko di pinggir jalan beterbangan atapnya, roboh dan rusak. Aku ingat hari itu adalah hari sabtu, 25 September 2010. Aku bersepeda motor dari Sedayu bersama Gus Hafidz, putra ketiga K.H. Zainal Arifin Thoha. Ia yang didepanku harus mengusap-ngusap matanya karena segerombol benda kecil masuk. Akhirnya kusuruh ia duduk di belakang.
Pelan-pelan angin itu merasuk ke dalam tubuhku, terus melewati aliran darah, hingga menusuk nuraniku. Angin itu berbisik dengan isak tangisnya yang sendu, “wahai manusia, telah berabad-abad kau rusak bumimu ini. Telah berkali-kali kau kotori diriku ini. Kau pasang ranjau di setiap sudut yang kulalui dengan gas-gas pembuangan beracun. Aku telah sesak, terdesak, dan aku memberontak”. Suara tangisan itu terus saja membayangiku, menjadi beban pikiran yang membentuk gelembung-gelembung kegetiran di sudut otakku.
Masyaallah! Hidup saat ini seperti bukan hidup. Bumi yang kita tempati, bukan lagi bumi yang asri. Bumi telah berganti menjadi bom waktu yang setiap detik bisa meledak dan melayangkan nyawa. Apakah kau tahu? Semua itu terjadi bukan karena siapa-siapa, tapi karena kejahatanku sendiri. Tanganku yang jail telah mengaduk-aduk isi bumi dan menghancurkannya. Manusia telah tersekat ke dalam hidup fatamorgana. Hedonisme, individualisme, egoisme, kapitalisme, dan isme-isme yang lain telah menjadi Tuhan yang disembah oleh berjuta-juta umat. Demi alasan ilmu pengetahuan, bumi dieksplorasi demikian angker. Ujung-ujungnya adalah berburu uang, kekuasaan, dan prestige.
Uang memang telah menjadi berhala menakutkan di abad ini. Uang telah disembah-sembah demikian khusyu’nya mengalahkan shalat lima waktu. Kekuatan dengan bentuk apapun, iman setebal apapun, ideologi sekuat apapun, prinsip setegak apapun, sewaktu-waktu bisa runtuh hanya karena uang. Modus operandinya pun bermacam-macam. Ada yang berdalih demi perdamaian, demi keilmuan, demi kemajuan, demi rakyat, demi masa depan, bahkan yang lebih ganas lagi, demi Tuhan. Apapun alasannya semuanya ndobos! Ujung-ujungnya hanyalah uang yang mewujud dalam kekuasaan, prestige, wanita, bahkan kekuatan.
Ya Allah, aku menjadi ingat apa yang dipesankan oleh Lukmanul Hakim kepada anaknya. Saat beliau memberi pelajaran hikmah, begitu bijak beliau berkata, “Ya bunayya, inna ad-dunya bahrun ‘amiqun (wahai anakku, sesungguhnya dunia ini adalah samudra yang ganas)”. Kata-kata itu merefleksikan setiap detik persoalan yang terjadi di abad ini. Persaingan manusia memperebutkan hidup, adalah bukti yang nyata. Manusia saling sikut, sesama saudara saling bunuh, majikan dan karyawan saling mengintrik, politisi adu taktik, bahkan pemimpin pun beramai-ramai memperebutkan kursi dengan strategi yang cantik. Manusia bangga mempertontonkan kelicikannya. Dan tanpa sadar, kita semua telah mengamininya. Kita telah menyuburkan segala kehancuran itu lewat ajaran-ajaran televisi, ceramah para bintang iklan, dan wasiat-wasiat manis para artis. Kita juga telah ditipu dengan pengetahuan yang membelenggu.
Tanpa sadar otak kita telah dicuci sehingga yang bersarang di kepala kita ini bukanlah akal pikiran yang jernih, tetapi daftar panjang nama-nama saudara yang akan kita binasakan. Kita telah menyusun gelombang konsumerisme dan iklim egoisme yang setiap waktu kita muntahkan. Tanpa sadar pula, kita sedang menyiapkan kuburan untuk masa depan anak cucu-kita. Padahal masa depan itu bukan sekedar yang nampak oleh mata. Negri akhirat yang disiapkan Tuhan untuk umatnya, juga masa depan yang nyata. Setiap hari kita mengharap keselamatan, kita berdoa “Rabba atina widdunya hasanah, wafil akhirati khasanah, waqina ‘adzabannar”, tapi kita tak pernah memperhatikan keselamatan kita sendiri. Kita telah merong-rong kesejatian diri.
Astaghfirullah! Betapa kejamnya diriku, dirimu, yang telah berbuat dzalim. Kepada diri sendiri kita dzalim, kepada orang lain kita dzalim, kepada bumi kita dzalim, bahkan kepada Tuhan pun kita dzalim. Barangkali ada benarnya wasiat Ronggowarsito, jika kita menangi jaman edan, maka yang terpenting adalah senantiasa eling dan waspada. Eling bahwa sejatinya diri kita ini hanyalah titipan. Kita dititipi perangkat hidup untuk didayagunakan hanya untuk mengabdi kepada Tuhan. Waspada bahwa arus kehidupan ini demikian deras. Jangan sampai kita terseret dan terperosok ke dalam jurang sehingga kita tak mampu keluar.
Kita memang generasi lemah yang tak mampu berbuat apa-apa. Alangkah bijak jika sejak sekarang kita memohon kepada Allah rabbul ‘alamin, agar Ia memberikan generasi yang kuat, handal, dan siap menerjang badai kehidupan. Kepada generasi muda yang akan datang, aku berharap semoga kalian terlahir sebagai panji Islam yang siap bertempur melawan kezaliman. Duniamu kelak adalah ampas yang diwariskan para pendahulu. Olahlah sampah itu menjadi sesuatu yang bermakna. Jangan hanya kau tatap dan kau ratapi saja. Jadilah manusia perkasa yang siap menerjang malapetaka, alfatihah…