Angin berhembus kencang menerjang segala apa yang dilewatinya. Pepohonan bergoyang dahsyat bahkan sebagian ada yang tumbang. Toko-toko di pinggir jalan beterbangan atapnya, roboh dan rusak. Aku ingat hari itu adalah hari sabtu, 25 September 2010. Aku bersepeda motor dari Sedayu bersama Gus Hafidz, putra ketiga K.H. Zainal Arifin Thoha. Ia yang didepanku harus mengusap-ngusap matanya karena segerombol benda kecil masuk. Akhirnya kusuruh ia duduk di belakang.
Pelan-pelan angin itu merasuk ke dalam tubuhku, terus melewati aliran darah, hingga menusuk nuraniku. Angin itu berbisik dengan isak tangisnya yang sendu, “wahai manusia, telah berabad-abad kau rusak bumimu ini. Telah berkali-kali kau kotori diriku ini. Kau pasang ranjau di setiap sudut yang kulalui dengan gas-gas pembuangan beracun. Aku telah sesak, terdesak, dan aku memberontak”. Suara tangisan itu terus saja membayangiku, menjadi beban pikiran yang membentuk gelembung-gelembung kegetiran di sudut otakku.
Masyaallah! Hidup saat ini seperti bukan hidup. Bumi yang kita tempati, bukan lagi bumi yang asri. Bumi telah berganti menjadi bom waktu yang setiap detik bisa meledak dan melayangkan nyawa. Apakah kau tahu? Semua itu terjadi bukan karena siapa-siapa, tapi karena kejahatanku sendiri. Tanganku yang jail telah mengaduk-aduk isi bumi dan menghancurkannya. Manusia telah tersekat ke dalam hidup fatamorgana. Hedonisme, individualisme, egoisme, kapitalisme, dan isme-isme yang lain telah menjadi Tuhan yang disembah oleh berjuta-juta umat. Demi alasan ilmu pengetahuan, bumi dieksplorasi demikian angker. Ujung-ujungnya adalah berburu uang, kekuasaan, dan prestige.
Uang memang telah menjadi berhala menakutkan di abad ini. Uang telah disembah-sembah demikian khusyu’nya mengalahkan shalat lima waktu. Kekuatan dengan bentuk apapun, iman setebal apapun, ideologi sekuat apapun, prinsip setegak apapun, sewaktu-waktu bisa runtuh hanya karena uang. Modus operandinya pun bermacam-macam. Ada yang berdalih demi perdamaian, demi keilmuan, demi kemajuan, demi rakyat, demi masa depan, bahkan yang lebih ganas lagi, demi Tuhan. Apapun alasannya semuanya ndobos! Ujung-ujungnya hanyalah uang yang mewujud dalam kekuasaan, prestige, wanita, bahkan kekuatan.
Ya Allah, aku menjadi ingat apa yang dipesankan oleh Lukmanul Hakim kepada anaknya. Saat beliau memberi pelajaran hikmah, begitu bijak beliau berkata, “Ya bunayya, inna ad-dunya bahrun ‘amiqun (wahai anakku, sesungguhnya dunia ini adalah samudra yang ganas)”. Kata-kata itu merefleksikan setiap detik persoalan yang terjadi di abad ini. Persaingan manusia memperebutkan hidup, adalah bukti yang nyata. Manusia saling sikut, sesama saudara saling bunuh, majikan dan karyawan saling mengintrik, politisi adu taktik, bahkan pemimpin pun beramai-ramai memperebutkan kursi dengan strategi yang cantik. Manusia bangga mempertontonkan kelicikannya. Dan tanpa sadar, kita semua telah mengamininya. Kita telah menyuburkan segala kehancuran itu lewat ajaran-ajaran televisi, ceramah para bintang iklan, dan wasiat-wasiat manis para artis. Kita juga telah ditipu dengan pengetahuan yang membelenggu.
Tanpa sadar otak kita telah dicuci sehingga yang bersarang di kepala kita ini bukanlah akal pikiran yang jernih, tetapi daftar panjang nama-nama saudara yang akan kita binasakan. Kita telah menyusun gelombang konsumerisme dan iklim egoisme yang setiap waktu kita muntahkan. Tanpa sadar pula, kita sedang menyiapkan kuburan untuk masa depan anak cucu-kita. Padahal masa depan itu bukan sekedar yang nampak oleh mata. Negri akhirat yang disiapkan Tuhan untuk umatnya, juga masa depan yang nyata. Setiap hari kita mengharap keselamatan, kita berdoa “Rabba atina widdunya hasanah, wafil akhirati khasanah, waqina ‘adzabannar”, tapi kita tak pernah memperhatikan keselamatan kita sendiri. Kita telah merong-rong kesejatian diri.
Astaghfirullah! Betapa kejamnya diriku, dirimu, yang telah berbuat dzalim. Kepada diri sendiri kita dzalim, kepada orang lain kita dzalim, kepada bumi kita dzalim, bahkan kepada Tuhan pun kita dzalim. Barangkali ada benarnya wasiat Ronggowarsito, jika kita menangi jaman edan, maka yang terpenting adalah senantiasa eling dan waspada. Eling bahwa sejatinya diri kita ini hanyalah titipan. Kita dititipi perangkat hidup untuk didayagunakan hanya untuk mengabdi kepada Tuhan. Waspada bahwa arus kehidupan ini demikian deras. Jangan sampai kita terseret dan terperosok ke dalam jurang sehingga kita tak mampu keluar.
Kita memang generasi lemah yang tak mampu berbuat apa-apa. Alangkah bijak jika sejak sekarang kita memohon kepada Allah rabbul ‘alamin, agar Ia memberikan generasi yang kuat, handal, dan siap menerjang badai kehidupan. Kepada generasi muda yang akan datang, aku berharap semoga kalian terlahir sebagai panji Islam yang siap bertempur melawan kezaliman. Duniamu kelak adalah ampas yang diwariskan para pendahulu. Olahlah sampah itu menjadi sesuatu yang bermakna. Jangan hanya kau tatap dan kau ratapi saja. Jadilah manusia perkasa yang siap menerjang malapetaka, alfatihah…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar