Lebaran kemarin saya bersama kawan-kawan KKN mampir ke MTs N Godean. Disana, kami disambut baik oleh siswa-siswi, bapak dan ibu guru, karyawan, serta Kepada Madrasah. Kami bersalaman sambil berikrar minta maaf atas segala kesalahan. Setelah itu, kami masuk ke ruang Kepada dan disana Pak Bahsan dengan senyum cerianya menyambut kami berlima. Beliau menyuruh kami duduk dan segera menyapa kami semua. Lalu, dengan sedikit canggung saya memulai pembicaraan bahwa niat kami ke Madrasah adalah untuk bersilaturahim dan meminta maaf kepada seluruh pihak Madrasah jika selama kami KKN disana banyak kesalahan. Pak Bahsan dengan nada penuh senyum membalas niat silaturahim kami dan memaafkan kesalahan kami.
Pembicaraan pun kami lanjutkan. Mula-mula beliau menanyakan perihal perasaan kami ketika mengajar. "Jadi guru itu enak ya?" Celetuk beliau kepada kami. Kami pun hanya tersenyum dan sesekali mengutarakan perasaan dengan nada ringan. Rupanya, pembicaraan kami kian hangat. Kami menyadari bahwa beliau ini termasuk orang yang terbuka dan memiliki karakter pendidik yang kuat. Beliau ini ternyata orang pesantren, kalau saya ndak salah beliau pernah nyantri di Nurul Ummah, Yogyakarta. "Siapa yang pernah nyantri?", beliau bertanya kepada kami. Berhubung kami semua pernah menjadi santri meski sebentar, kami jawab saja apa adanya. Pembicaraan kami pun mengarah ke pesantren. Beliau bercerita kalau dahulu mempunyai teman bernama Rasyid. "Rasyid itu di pondok jadi pesuruh. Disuruh masak, benerin genteng, benerin lampu, pokoke opo wae. Kalau ada pekerjaan kurang beres, si Rasyid ini jadi kambing hitamnya, hehehe".
Beliau semakin asyik bercerita. "Setelah sekian tahun, saya kaget. Saya ditelpon sama temen, dia bilang begini sama saya, Kang, Sampean tahu Rasyid? Sekarang dia memiliki pesantren dengan jumlah santri sekitar 800 orang. Saya benar-benar kaget dan tak menyangka hal itu". Pak Bahsan masih saja larut dengan ceritanya. " Itulah uniknya pesantren. Sama seperti kisah Mbah Hamid Pasuruan. Beliau itu nyantri selama 12 tahun dan disana beliau hanya menjadi tukang ngangsu air. Setelah 12 tahun beliau mengatakan pada Kyai-nya kalau selama ini beliau tidak pernah disuruh ngaji. Beliau bingung nanti pulang ke rumah mau apa wong ndak bisa ngaji. Lalu Kyai-nya bilang, wis ndak sah khawatir. Kyai-nya ini kemudian menyuruh Mbah Hamid ngaji sorogan. Uniknya, kalau santri-santri yang lain menghabiskan waktu yang lama untuk memahami kitab, Mbah Hamid hanya membutuhkan waktu satu setengah tahun. Setelah itu, Mbah Hamid malah disuruh pulang sama Pak Kyai. Dan kita lihat sekarang, pesantren beliau besar dan maju".
Di tengah-tengah suasana khidmad karena asyik mendengarkan ceritanya, tiba-tiba beliau nyeletuk."Tapi tidak semua begitu. Kalian kalau ndak belajar sungguh-sunnguh yang ndak bisa seperti itu". Kami pun hanya bisa tertawa. Bagi kami, itu sebuah kisah inspiratif meski saya sendiri sudah mendengar kisah-kisah seperti itu seperti kisahnya Mbah Hasyim. Kami sebagai generasi muda menjadi kian terbuka bahwa banyak fenomena kehidupan yang itu jauh di luar daya nalar. Disanalah kekuasaan Tuhan yang menjelma. Tuhan yang digambarkan sebagai sesuatu yang suprarasional atau melampui rasionalitas, sungguh memiliki kekuasaan yang tak terbatas. Wajar saja kalau al-Qur'an mengabarkan bahwa seandainya laut dijadikan tinta dan ikan sebagai penanya, itu tak akan cukup untuk menulis ilmu Allah.
Pembicaraan dengan Pak Bahsan pun kami lanjutkan. Kali ini beliau memberikan kami 4 kunci kesuksesan. Menurut beliau, kunci kesuksesan yang pertama adalah, jangan pernah diri ini lepas dari masjid. Hal ini telah beliau lakukan semenjak masih kuliah di IAIN. Sampai saat ini beliau masih menjadi pengurus takmir masjid. Saya pribadi lantas berpikir, mengapa mesti masjid? Baru setelah saya membuka al-Qur'an, di dalam surah at-Taubah : 18, disana tertera demikian, "Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk".
Hanya orang-orang yang beriman yang mau memakmurkan masjid. Kalau begitu, semoga saja Pak Bahsan ini termasuk golongan yang masuk dalam ayat ini. Lalu, apa hubungannya dengan kesuksesan? Untuk mengetahui jawabannya saya pun membuka al-Qur'an lagi. Di dalam surah Ali Imran : 57, Allah menjelaskan, "Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim". Pahala disini bisa saja diberikan di dunia yaitu berupa harta, pujian, dan lainnya (Q.S.3:148). Wajar saja kalau orang-orang yang memakmurkan masjid diberikan kesuksesan oleh Allah.
Lalu, kunci yang kedua menurut Pak Bahsan adalah shalat dhuha. "Saya sudah 25 tahun melaksanakan shalat dhuha. Dan alhamdulillah selalu bisa saya laksanakan", tutur beliau. Memang ini sudah menjadi rahasia umum meski saya sendiri masih saja malas untuk melaksanakannya. "Yang ketiga, memang ini agak berat, yaitu shalat tahajud", beliau melanjutkan. " Yang berat itu istiqamahnya. Kalau shalat dhuha masih bisa dijangkau. Pasti ada waktu senggang di pagi hari meski lima menit". Shalat tahajud sebagaimana kita ketahui bersama, memang bisa melancarkan rizki dan menjadi lantaran terkabulnya hajat. Sayangnya, saya sendiri masih saja berat untuk melaksanakannya.
Lalu yang terakhir adalah silaturahim, atau mencari jejaring kalau dalam dunia bisnis. "Silaturahim itu banyak manfaatnya, Mas. Saya punya mobil, rumah, itu karena sering silaturahim. Kalau ndak, ya susah. Gaji saya jadi kepala ya ndak cukup untuk beli mobil sama rumah". Tutur beliau penuh yakin. "Sampai saya bisa menjadi pengurus haji, ini juga karena rajin silaturahim".
Itulah ilmu yang saya dapat dari Pak Bahsan. Sesungguhnya, tawaran Pak Bahsan adalah solusi yang langsung beliau nukil dari ajaran Islam. Ini artinya, Islam tidaklah kolot dan tidak pula ketinggalan zaman. Boleh-boleh saja Barat memiliki paradigma tersendiri mengenai kesuksesan. Tetapi Islam juga memberi solusi untuk menapaki jalan sukses. Hanya saja, kita terkadang enggan untuk mengakuinya, apalagi menjalankannya. Saya sendiri juga demikian. Apalagi jiwa anak muda, selalu ingin mencari sesuatu yang baru dan brilian. Padahal, sesuatu yang lama belum tentu buruk. Mungkin ada perlunya kita menengok kembali prinsip usul fiqh, "Al-muhafadzatu 'ala qadimi as-shalih wa al-ahdu bil jadidi al-ashlah (menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik)". wallahu a'lam.
Yogyakarta, 5 Oktober 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar