"Mas, nderek teng kamar mandi...". Suara itu datang dari arah depan. Saat itu kebetulan saya sedang mencuci baju. Ternyata suara itu milik bapak tua penjual kerupuk. Ia tersenyum saat saya membalas sapaannya. Dengan raut muka sedikit berbinar, ia mengenalkan dirinya kepada saya. Nada bicaranya berlogat Jawa campur Sunda. Kalau dibahasakan dengan standar Bahasa Indonesia, kira-kira ia bicara demikian, "Saya asli Ciamis, Mas. Saya sudah 38 tahun merantaui di Jogja mencari penghidupan. Saya tinggal di dekat kampus UPN. Kemarin lebaran mudik. Ini baru lima hari di Joga". Lalu saya baik bertanya kepadanya, "Keluarga di rumah, apa disini, Pak?". "Kalau keluarga di rumah, Mas. Saya tinggal sendiri disini. Kalau mau main kesana ndak papa".
Ia lalu meneruskan pembicaraannya sambil menatap saya penuh yakin. "Saya bersyukur bisa bekerja meski jadi penjual krupuk. Yang penting rizki saya halal. Dari pada saya korupsi, malah dosa. Meski hasilnya sedikit yang penting saya bahagia". Rupanya bapak itu hendak menasehati saya. "Saya merantau sejak jaman Bung Karno. Dulu saya pernah ke Jakarta. Sekarang di Jogja. Dimanapun saya tidak ingin cari musuh. Saya ingin mencari saudara dan bersilaturahim. Kalau saya ingin mencari musuh, mending di rumah aja. Ndak usah jauh-jauh datang ke Jogja". Bapak itu terus saja menasehati saya. Ia berbicara sambil sesekali menggerakkan tubuhnya karena mungkin kecapekan. Setelah itu, ia pun ke kamar mandi untuk cuci muka dan tangan. Ia lalu ambil air wudlu dan melaksanakan shalat dhuha. Selepas shalat, ia bergegas pergi. Saya yang saat itu masih mencuci baju, belum sempat menyapanya kembali. Saya juga lupa belum menanyakan namanya.
Perjumpaan dengan penjual kerupuk itu bagi saya sungguh berkesan. Meski hanya sebentar, goresan kata-katanya seakan membekas di benak ini. Dari raut mukanya terpancar wajah yang penuh hati-hati. Bapak itu memberi saya arti bahwa mencari rizki itu atas dasar kehalalan meski hanya sedikit. Yang sedikit saja sudah bisa membahagiakan, apalagi jika banyak. Saya sebagai generasi muda tersentak akan kesederhanaannya sehingga ia berani berkata bahwa korupsi itu dosa. Ia semakin meyakinkan saya bahwa dimanapun kita berada, pasti ada pintu rizki yang terbuka. Yang penting kita telah berusaha. Saya jadi ingat bahwa al-Qur'an telah mengabarkan, "Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)(Q.S. Huud : 6)".
Semenjak itu tabir ketakutan saya semakin terbuka. Ternyata, kita ini hanyalah setitik air di tengah lautan kekuasaan-Nya. Mengapa kita harus takut menghadapi hidup jika Tuhan masih mengawasi gerak-gerik langkah kaki. Toh, karunia-Nya tak terbatas ruang dan waktu. Asal diri kita tak punya musuh dan tak punya salah, mengapa harus takut? Orang yang takut itu adalah orang yang mempunyai kesalahan. Dimana-mana ia takut akan musuh-musuhnya. Bahkan terhadap Tuhan pun ia takut untuk mendekat. Mungkin termasuk diri saya ini. Terkadang takut untuk mendekat kepada-Nya. Bapak itu juga telah membuka dunia ini semakin luas. Ia mengajari bahwa persaudaraan dimana pun perlu dipupuk. Bagi kita, pembicaraan seperti ini adalah sesuatu yang sederhana. Tapi kita tak menyadari bahwa seringkali kita melupakan hal itu. Kita sering mencari persaingan dimana-mana. Memang persaingan itu perlu, tapi tak perlu kita jadikan pesaing sebagai musuh. Modernitas memang melahirkan banyak persaingan atas dasar kompetisi. Akhirnya, kita seringkali dibingungkan oleh kegelisahan diri sendiri. Gelisah tak mendapat pekerjaan, gelisah tak bisa makan, gelisah tak mampu kuliah, dan sebagainya.
Saya berterimakasih kepada Bapak yang telah membuka kesadaran akan luasnya semesta. Sayang...saya belum sempat menanyakan siapa namanya.
Yogyakarta, 4 Oktober 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar